Contoh cerpen
Contoh cerpen: Akhirnya aku mempunyai seorang adik
Valerie adalah seorang anak perempuan yang berasal dari keluarga kurang mampu. Valerie tinggal di sebuah gubug di suatu desa di lereng gunung Mayon. Rumahnya berada dalam kondisi yang tidak manusiawi, dengan atap yang bolong dan dengan dinding yang bolong, tak hanya itu, meski rumahnya di lereng gunung (daerah dingin), tetapi di rumahnya banyak nyamuk, tak terkecuali nyamuk demam berdarah, karena kotor. Beruntung, Valerie dan keluarganya tidak pernah terkena penyakit demam berdarah, karena nyamuk demam berdarah tidak terlalu banyak di rumahnya. Valerie menjadi yatim piatu saat liburan sekolahnya, karena kedua orangtuanya meninggal dunia dalam kecelakaan di jalan raya. Penghasilan dari kedua orangtuanya habis dipakai untuk membayar uang sekolah Valerie. Bahkan tidur pun harus dalam keadaan kotor dan banyak debu. Selain itu, beras yang keluarga Valerie dapatkan tidak berasal dari pembelian, melainkan dari suatu LSM yang memberikan beras kepada orang-orang tak mampu (Rice for the Poor).
Valerie menyadari bahwa ia sebentar lagi harus menjalankan ujian nasional. Meski dirinya sibuk mengangkut beras dari sawah ke pasar dan kondisi rumahnya gelap, Valerie tetap giat belajar untuk Ujian Nasional. Ia belajar hanya menggunakan lilin di atas kaleng Coca-Cola bekas. Ia tidak pernah patah semangat untuk belajar walaupun dalam keadaan lelah dan minim penerangan di rumahnya. Beruntung Valerie mempunyai seorang teman yang baik hati bernama Daniel yang meminjamkan buku-bukunya sehingga Valerie tidak perlu membeli buku-buku tersebut. Namun beberapa bulan sebelum ujian Valerie kembali dipanggil tata usaha disekolahnya karena belum membayar uang sekolah dan harus segera melunasinya jika tidak Valerie tidak diperbolehkan ikut ujian.
Valerie sangat sedih sekali. Beban hidup mereka bertambah karena dia menjadi seorang anak yatim piatu. Karena Valerie semakin sengsara, akhirnya dia melanjutkan pekerjaan bapaknya sebagai tukang pacul di kampung. Penghasilannya tidak menentu, kadang banyak, kadang sedikit, disaat penghasilannya banyak, Valerie membeli beras untuk makan sehari-hari, tetapi Valerie harus membayar hutang ke toko beras langganannya bila mendapat penghasilan dari mengangkut beras ke pasar. Setiap kali mendapatkan uang, Valerie selalu mengingatkan dirinya bahwa ia sedang menunggak uang sekolah. Saat orangtuanya masih hidup, ia sudah beberapa kali dipanggil oleh tata usaha sekolah untuk melunasi uang sekolahnya namun Valerie tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali.
Valerie menyadari bahwa ia sebentar lagi harus menjalankan ujian nasional. Meski dirinya sibuk memacul dan kondisi rumahnya gelap dan kotor, Valerie tetap giat belajar untuk Ujian Nasional. Ia belajar hanya menggunakan lilin di atas kaleng Coca-Cola bekas. Ia tidak pernah patah semangat untuk belajar walaupun dalam keadaan lelah dan minim penerangan di rumahnya. Beruntung Valerie mempunyai seorang teman yang baik hati yang meminjamkan buku-bukunya sehingga Valerie tidak perlu membeli buku-buku tersebut. Namun beberapa bulan sebelum ujian Valerie kembali dipanggil tata usaha disekolahnya karena belum membayar uang sekolah dan harus segera melunasinya jika tidak Valerie tidak diperbolehkan ikut ujian.
Karena ia sadar bahwa dirinya sedang berada dalam kemiskinan ekstrem, Valerie akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah dan merantau ke Manila. Karena ada orang yang menawari Valerie bekerja, yaitu seorang wanita pebisnis yang tinggal di Manila dan suaminya bekerja di luar wilayah Filipina. Ia berjanji akan menyekolahkan Valerie disana. Mereka berangkat ke Manila menggunakan mobil pribadi milik Ibu Cora. Di dalam mobil itu, terdapat putranya Ibu Cora, Joseph. Saat tiba di rumah tersebut, Valerie langsung memperkenalkan dirinya kepada Ibu Cora dan Joseph. Joseph duduk di kelas II SMP. Setelah memperkenalkan diri, ia memulai pekerjaannya di Manila dengan bekerja rumah tangga. Ia berjanji untuk bekerja dengan baik dan benar. Ia bertugas untuk memasak, mencuci, menyetrika, mengepel dan sebagainya. Ibu Cora menyekolahkan Valerie di tempat yang sama dimana Joseph bersekolah. Ibu Cora turut membantu seluruh biaya sekolah Valerie. Valerie sangat pandai membagi waktu untuk belajar dan bekerja. Di pagi hari, ia menuntut ilmu di sekolah, sepulang sekolah, Valerie mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh Ibu Cora dan pada malam hari Valerie mengulang pelajaran sekolahnya bersama Joseph. Valerie pun berangkat dan pulang sekolah bersama Joseph menggunakan jeepney, bahkan sebelum masuk ke kelasnya masing-masing, Joseph (kelas I SMP) dan Valerie (kelas III SMP) saling bergandengan tangan. Ibu Cora juga berjanji akan menyekolahkan Valerie hingga SMA. Joseph menganggap Valerie sebagai kakaknya sendiri. Sebaliknya, Valerie menganggap Joseph sebagai adiknya sendiri. Ia mengaku sendiri bahwa ia tetap sekolah meski berstatus pembantu rumah tangga. Joseph bertanya kepadanya, “Do you want to study with me?”, ia menjawab “Joseph, it’s OK, as you say that I am your older sister and I say that you are my little brother”. Akhirnya, Valerie mempunyai seorang adik bernama Joseph dan akan mengabari kepada kakek dan neneknya saat ia mudik ke daerah asalnya (Bikol) bersama Joseph dan Ibu Cora. “I will tell my grandfather and grandmother that someone is becoming a member of my family, I will also take him and Madame Cora there and visit my grandparents’ house. Although I am just working as a maid in Manila, but I’ll say that Joseph is my brother. Akhirnya Joseph dan Valerie hidup seperti adik kakak.
Comments
Post a Comment